Jumat, 03 Agustus 2012

materi untuk kelas XII IPA SMANIKE

Revolusi Hijau 
adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini.

Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.
A.RevolusiHijau
Teknologi genetika memicu terjadinya Revolusi Hijau (green revolution) yang sudah berjalan sejak 1960-an. Dengan adanya Revolusi Hijau ini terjadi pertambahan produksi pertanian yang berlipat ganda sehingga tercukupi bahan makanan pokok asal serealia.
Konsep Revolusi Hijau yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan masyarakat) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras. Tujuan tersebut dilatarbelakangi mitos bahwa beras adalah komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial. Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi yang sering disabut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur. Grakan ini berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.
Gerakan Revolusi Hijau yang dijalankan di negara – negara berkembang dan Indonesia dijalankan sejak rejim Orde Baru berkuasa.  Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia tidak mampu untuk menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap, tetapi hanya mampu dalam waktu lima tahun, yakni antara tahun 1984 – 1989. 
Salah satu masalah yang dihadapi oleh pemerintah Orde Baru adalah produksi pangan yang tidak seimbang dengan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Oleh karena itu pemerintah Orde Baru memasukkan Revolusi Hijau dalam program Pelita. Revolusi Hijau ini dilaksanakan secara nasional. Apa sih Revolusi Hijau itu? Revolusi Hijau adalah perubahan besar berkaitan dengan soal penggarapan tanah dan pertanian.
PERKEMBANGAN REVOLUSI HIJAU, TEKNOLOGI dan INDUSTRIALISASI
Kebijakan modernisasi pertanian pada masa Orde baru dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau.
Revolusi Hijau merupakan perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara modern.
Revolusi Hijau (Green Revolution) merupakan suatu revolusi produksi biji-bijian dari hasil penemuan-penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas, gandum, padi, dan jagung yang mengakibatkan tingginya hasil panen komoditas tersebut.
Tujuan Revolusi hijau adalah mengubah petani-petani gaya lama (peasant) menjadi petani-petani gaya baru (farmers), memodernisasikan pertanian gaya lama guna memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Revolusi hijau ditandai dengan semakin berkurangnya ketergantungan para petani pada cuaca dan alam karena peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan produksi bahan makanan.
Latar belakang munculnya revolusi Hijau adalah karena munculnya masalah kemiskinan yang disebabkan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan. Sehingga dilakukan pengontrolan jumlah kelahiran dan meningkatkan usaha pencarian dan penelitian binit unggul dalam bidang Pertanian. Upaya ini terjadi didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Thomas Robert Malthus.
Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menggalakan revolusi hijau ditempuh dengan cara :
1.     Intensifikasi Pertanian
Intensifikasi Pertanian di Indonesia dikenal dengan nama Panca Usaha Tani yang meliputi :
a.      Pemilihan Bibit Unggul
b.      Pengolahan Tanah yang baik
c.       Pemupukan
d.      Irigasi
e.      Pemberantasan Hama
2.     Ekstensifikasi Pertanian
Ekstensifikasi pertanian, yaitu  Memperluas lahan tanah yang dapat ditanami dengan pembukaan lahan-lahan baru (misal mengubah lahan tandus menjadi lahan yang dapat ditanami, membuka hutan, dsb).
3.     Diversifikasi Pertanian
Usaha penganekaragaman jenis tanaman pada suatu lahan pertanian melalui sistem tumpang sari. Usaha ini menguntungkan karena dapat mencegah kegagalan panen pokok, memperluas sumber devisa, mencegah penurunan pendapatan para petani.
4.     Rehabilitasi Pertanian
Merupakan usaha pemulihan produktivitas sumber daya pertanian yang kritis, yang membahayakan kondisi lingkungan, serta daerah rawan dengan maksud untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah tersebut. Usaha pertanian tersebut akan menghasilkan bahan makanan dan sekaligus sebagai stabilisator lingkungan.

Pelaksanaan Penerapan Revolusi Hijau:
Pemerintah memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani.
Kegiatan pemasaran hasil produksi pertanian berjalan lancar sering perkembangan teknologi dan komunikasi.
Tumbuhan yang ditanam terspesialisasi atau yang dikenal dengan monokultur, yaitu menanami lahan dengan satu jenis tumbuhan saja.
Pengembangan teknik kultur jaringan untuk memperoleh bibit unggul yang diharapkan yang tahan terhadap serangan penyakit dan hanya cocok ditanam di lahan tertentu.
Petani menggunakan bibit padi hasil pengembagan Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI=International Rice Research Institute) yang bekerjasama dengan pemerintah, bibit padi unggul tersebut lebih dikenal dengan bibit IR.
Pola pertanian berubah dari pola subsistensi menjadi pola kapital dan komersialisasi.
Negara membuka investasi melalui pembangunan irigasi modern dan pembagunan industri pupuk nasional.
Pemerintah mendirikan koperasi-koperasi yang dikenal dengan KUD (Koperasi Unit Desa).




10 Komentar:

Pada 4 Agustus 2012 05.28 , Blogger Dhimas Tiamokers mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

 
Pada 4 Agustus 2012 08.44 , Blogger Arsy Baiq Shazkya♥ mengatakan...

ARSY BAIQ SHAZKYA / 06 / XII-IA2

setelah saya membaca di artikel ibu, dapat disimpulkan bahwa revolusi hijau dapat menanggulani masalah pertumbuhan manusia dan makan yg tidak seimbang dengan cara pemanfaatan bioteknologi yang semakin hari semakin banyak penemuan baru untuk mendapatkan hasil bibit unggul yang maksimal juga dapat membantu menambah pasokan makanan yang ada, tetapi tidak semua orang dapat menikmati hasil bioteknologi tsb dikarenakan tingginya biaya produksi pangan dg cara bioteknologi yg mungkin bisa berdampak pada kenaikan harga pangan dan pada saat itu juga masyarakat di Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan seperti kata Thomas Robert Malthus (1766–1834) yang memulai melakukan penelitian dan memaparkan
hasilnya. Malthus menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah
yang tidak bisa dihindari oleh manusia. jadi hanya petani yang kaya saja yg bisa memakai bioteknologi itu.

revolusi hijau banyak sisi positifnya juga banyak sisi negatifnya, diantara sisi negatif yang ada diatas, Ketergantungan pada pupuk kimia dan zat kimia pembasmi hama juga
berdampak pada tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani, bukankah penggunaan bahan-bahan dari kimiawi dapat berakibat buruk bagi kesehatan bila kita secara terus-menerus mengkonsumsi zat kimia tsb yg masih menempel pada padi, apalagi kalau proses pencucian padi tidak bersih, apakah ada cara lain bu untuk mengatasi penggunaan bahan kimia ini?

 
Pada 5 Agustus 2012 09.22 , Blogger KUSMIATI mengatakan...

Arsy, kelas dan no absennya mana...?

 
Pada 9 Agustus 2012 22.02 , Blogger Arsy Baiq Shazkya♥ mengatakan...

saya kelas XII-IA2 dan nomer absen 6 bu

 
Pada 19 September 2012 19.09 , Anonymous Anonim mengatakan...

bu saya mau tanya
kenapa Pola pertanian berubah dari pola subsistensi menjadi pola kapital dan komersialisasi?

 
Pada 19 September 2012 19.12 , Anonymous Anonim mengatakan...

bu brsan saya dwi puji lestari
kelas XII IPA 2

 
Pada 11 Oktober 2012 23.48 , Blogger KUSMIATI mengatakan...

ok smua

 
Pada 26 Agustus 2013 06.32 , Blogger niken ayu mengatakan...

bu setelah saya baca artikel di atas ,menurut saya masih banyak petani yang menggatungkan pada cuaca

 
Pada 6 September 2013 02.44 , Blogger edi susanto mengatakan...

revolusi hijau memang harus dikembangkan oleh setiap pihak , karena maraknya pihak yang gentir dengan usaha untuk meningkatkan tehnologi dan pembangunan tanpa memikirkan usaha untuk keseimbangan kehidupan (revolusi hijau)

edi susanto XII IPS 1 (11)

 
Pada 7 September 2013 22.08 , Blogger KUSMIATI mengatakan...

OK. thanx komentnya

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda